Meyakini adanya Nabi dan Rasul Allah merupakan rukun iman bagi setiap muslim. Dari 120 ribu lebih jumlah Nabi, ada 4 (empat) Nabi yang disebut masih hidup hingga hari ini. Maksud hidup di sini adalah belum pernah merasakan atau bertemu dengan kematian. Nabi dan Rasul merupakan manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah Ta'ala.
Maksudnya adalah orang yang mati syahid di jalan Allah tetap hidup dan diberikan rizki di sisi Tuhan mereka, mereka riang gembira dan bersenang-senang dengan apa yang mereka dapatkan dan bergirang hati dengan saudara-saudara mereka yang terbunuh di jalan Allah subhanahu wata’ala setelah mereka, bahwa mereka mendahului dan tidak takut dengan apa yang ada dihadapan mereka serta tidak bersedih
Ditemukan kumpulan penafsiran dari para ahli ilmu mengenai kandungan surat Ar-Rahman ayat 27, di antaranya seperti berikut: 26-27. Semua makhluk yang ada di bumi akan binasa, dan yang tetap hidup adalah Wajah Tuhanmu, Pemilik Keagungan, kebesaran, keutamaan dan kemurahan. Dalam ayat ini terkandung penetapan sifat “wajah” bagi Allah sesuai
Kata Syaikh As-Sa’di, di antara bentuk kesempurnaan dari sifat Allah al-hayyu al-qayyum, Allah itu tidak mengantuk dan tidak tidur. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 102) Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata bahwa kantuk dan tidur adalah sifat kekurangan. Sedangkan Allah Ta’ala memiliki sifat yang sempurna secara mutlak.
Dalam surah Yunus ayat 44, “sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri/” Kurang lebih seperti itu terjemahan dari ayat yang saya maksud. Yang menjadi angan-angan saya, apakah ketika manusia dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang notabene adalah pemeluk agama non muslim
Diterangkan, kewalian bukanlah dengan klaim begitu saja, melainkan melihat dari iman dan ketakwaan. Sehingga apabila ada orang yang mengatakan, "Dia adalah seorang wali", tetapi orang itu tidak beriman lagi bertakwa kepada Allah SWT, maka perkataannya itu ditolak atau tidak benar. Keberadaan wali Allah ini dijelaskan dalam Surat Yunus ayat 62-63.
Orang-orang mukmin diperintahkan membelanjakan harta kekayaannya untuk berjihad fi sabilillah dan dilarang menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan karena kebakhilannya. Jika suatu kaum menghadapi peperangan sedangkan mereka kikir, tidak mau membiayai peperangan itu, maka perbuatannya itu berarti membinasakan diri mereka. Menghadapi jihad
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: {وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ} Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. (Al-Baqarah: 216) Yakni terasa keras dan berat bagi kalian, dan memang kenyataan perang itu demikian, adakalanya terbunuh atau terluka selain dari masyaqat perjalanan dan menghadapi musuh. Kemudian Allah Subhanahu
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 185: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." dan Al-Qur'an surat Al-Qasas ayat 88: "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah." Meskipun menjadi hal yang mutlak, namun kematian adalah sebuah misteri. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mengetahui kapan dan dengan cara
Orang yang murtad berarti telah mengingkari ajaran atau syariat Islam seperti shalat, zakat, dan kenabian. Selain itu, ia juga tidak beriman kepada Allah dan menjadi kafir secara sukarela. Dengan kata lain, ia yakin dan ridha dengan pilihannya tersebut. Ada banyak dalil Al-Quran yang dapat membantu untuk memahami murtad, misalnya bagaimana
5g40.